Sabtu, 03 Januari 2009
Selasa, 09 Desember 2008
FAKTOR KEJIWAAN (KAJIAN AHAD 23 NOPEMBER 2008)
Petunjuk al Qur-an
Pada umumnya ummat Islam telah mengerti dan memahami, bahwa Al Qur-an itu penyempurna dari seluruh Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah terdahulu (QS Al Baqarah, 2 : 106), dan itu berarti sebagai petunjuk yang final (QS Al An’am, 6 : 153). Tetapi secara fakta, dalam menerima kebenaran Al Qur-an tersebut sebahagian besar masih terpengaruh oleh kebanyakan orang, sebagaimana diterangkan di dalam Surah Al Isra’, 17 : 89, yaitu artinya :
“Dan sungguh pasti Kami ulang-ulang untuk manusia dalam ASl Qur-an ini tiap-tiap matsal, maka (dalam kenyataan bukan hanya) merasa enggan pada kebanyakan manusia, melainkan (bahkan) ingkar.”
Maksud ayat tersebut bertujuan untuk memberikan bukti tentang keberadaan Hidayah, bahwa sesungguhnya mutlak sebagai hak absolut Allah SWT (QS Yunus, 10 : 100), sedangkan sistem pengulangan dengan menunjuk berbagai matsal, (Az Zumar, 39 : 27-28) merupakan dorongan untuk melakukan tadabbur (QS Muhammad, 47 : 24). Maka dengan hal tersebut akan dapat dipahami tentang keberadaan “faktor psikologis” atau dalam istilah lain disebut faktor kejiwaan.
Pembahasan
Bahwa sesungguhnya manusia dalam perjalanan hidupnya diberi kewenangan penuh untuk menentukan dirinya sendiri (QS Fishilat, 41 : 40; Hadits Shahih Riwayat Ahmad dalam “Majma’uz Zawa’id).
mubarki
Senin, 01 Desember 2008
MEMAHAMI PETUNJUK (KAJIAN AHAD, 16 NOPEMBER 2008)
Dengan memperhatikan dan mencermati terhadap petunjuk Al Qur-an surah Al Isra, 17 : 105, yaitu :
Artinya : “Dan (ketahuilah bahwa) dengan yang sebenarnya Kami telah turunkan (Al Qur-an itu), dan dengan membawa Kebenaran ia (Al Qur-an) itu, dan tiadalah Kami utus engkau(Muhammad) melain kan sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pengancam.”
Bahwa muatan ayat tersebut menuntut :
a. Kepahaman terhadap keberadaan dan kedudukan Al Qur-an
b. Kepahaman terhadap perutusan Muhammad sebagai penutup dari seluruh nabi (QS Al Ahzab, 33 : 40), adalah sebagai kunci bagi memperoleh cinta dan ampunan Allah (QS ali Imran, 3 : 31).
Dengan yang tersebut akan merupakan isyarat untuk diwas padai,yaitu berupa berbagai tindakan pemurtadan (QS Al Baqarah, 2 : 109), dan berbagai upaya untuk mengganggu konsentrasi umat Islam terhadap Al Qur-an (QS Fushila, 41 : 26). Kemudian akan bermunculan manusia-manusia zandaqoh dengan sikap ambivalensinya berupaya merusak citra Islam dan berupaya menghambat perjalanan para muttabi’ Rasulullah saw (QS An Nisa', 4 : 91). Karena ketetapan Allah yang pasti terhadap keberadaan sosok Muhammad Rasulullah (QS Al Hujurat, 49 : 7).
Pembahasan
Sesungguhnya keterangan secara terurai berdasarkan keterka itan ayat sebelum dan seudahnya, maka dapat dipaham secara cukup jelas, karena keberadaan rincian petunjuknya antara lain sebagai berikut :
01. Bagi yang mau bertadabbur,maka secara pasti al Qur-an akan memandu kepada kesempurnaan taqwa secara baik dan benar (QS Az Zumar, 39 : 27-28);
02. Ketetapan Allah terhadap Al Qur-an sebagai ”sumber” adalah merupakan titik tolak yang pasti bagi pembangunan Kemanusiaan disegala sector kehidupan yang dipelopori oleh hamba-hamba yang bertaqwa (QS Ali Imran, 3 : 138);
03. Al Qur-an sebagai petunjuk pasti bagi hamba yang beriman (QS Az Zumar, 39 : 23), dan secara pasti pula akan ditegakkan Allah sebagai Norma Hukum atas umat manusia (QS Al Jatsiyah, 45 : 20). Maka berarti menempatkan diri kedalam golongan orang-orang yang berjihad dalam urusan Dinullah adalah wajib (QS Al Hajj, 22 : 78);
04. Keberadaan Muhammad saw sebagai Rasul adalah wajib diikuti segala yang menjadi batasan-batasannya (QS Ali Imran, 3 : 31). Karena dengan itu akan memandu dalam melaksanakan berbagao ke wajiban dalam Millah Ibrahim (QS Ali Imran, 3 : 68).
Dengan yang tersebut maka berarti bahwa amanah kerasulan Muhammad saw adalah amanah yang akan mengantar umat Islam memperoleh kesaksian Allah (QS Ali Imran, 3 : 53), sebagai hamba yang bekerja keras menjemput Hari Kejayaan Islam atas umat manusia sampai akhir zaman
mubarki
gbcm.0908028
Rabu, 12 November 2008
PETUNJUK KESELAMATAN (KAJIAN AHAD, 09 NOPEMBER 2008)
Artinya : “Maka (lantaran itu) bertakwalah kamu menurut kemampuan kamu,dan dengarkanlah, dan taatilah, dan infaqkanlah (hartamu) secara baik untuk dirimu sendiri. Dan barangsiapa yang terpelihara dari kebakhilan dirinya, maka mereka itu orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan.”
Ayat tersebut dalam mengambil salah satu jurusan, adalah merupakan pembinaan untuk mencapai kesadaran dan kesiapan yang utama, bahwa rumah tangga Muslim adalah merupakan lembaga inti bagi pembangunan masyarakat dunia, karena dilandasi dengan sikap “mawaddah wa rahmah” (QS Ar Rum, 30 : 21).
Pembahasan
Ayat tersebut merupakan batasan pokok bagi yang telah menerima Nur Islam, dalam keterkaitan dengan perjalanan Muslim dalam memotivasi diri (QS Az Zumar, 39 : 11 - 12). Batasan tersebut meliputi sebagai berikut :
a. Perintah “Taqwa kepada Allah”
Dengan perintah langsung, dan diikuti kalimat ”mastatho’ tum”, maka berarti menuntut kemampuan pribadi dalam hal karakter dan sistem (QS Ali Imran, 3 : 102). Kemudian menuntut kepeduliannya terhadap masalah keumatan (QS Ali Imran, 3 : 110), dan tanggung jawab generasi (QS An Nisa’, 4 : 9).
b. Perintah “Isma’u”
Adalah kesadaran membuka hatinya terhadap wasiat Kebenaran dan Keteguhan hati dalam Islam (QS Al ’Ashr, 103 : 3), agar tidak kotor hati serta mudah menerima bisikan syaithon (QS Al Hajj, 22 : 53), dan tidak mengabaikan Kebenaran Islam supaya jangan menjadi sahabat syaithon (QS Az Zukhruf, 43 : 36).
c. Perintah “Athi’u”
Adalah berkaitan erat dengan masalah “aktivitas majlis Ilmu secara langsung” (QS Az Zumar, 39 : 18) dan “tak lansung dalam bentuk bertanya tentang dalil yang menjadi hujjah” (QS Luqman, 31 : 14). Karena ketaatan itu hanya diterima Allah selama dilandasi oleh “Kebersihan Islam sebagai Di-nullah” (QS Az Zumar, 39 : 3), kemudian berlanjut dengan “Kalimah Thoyyibah dan ‘amal shalih” (QS Fathir, 35 : 10).
d. Perintah “infaq”
Kesemuanya tersebut secara pasti merupakan petunjuk keselamatan bagi tiap pribadi yang benar-benar mendamba kan keredlaan Allah disisi-Nya (QS Al Lail, 92 : 19-21).
mubarki
gbcm.0908027
Senin, 03 November 2008
PANDUAN AL QUR-AN DI DALAM MENUJU DAULAH ISLAM DUNIA (KAJIAN AHAD, 02 NOPEMBER 2008)
Petunjuk Dalil Al Qur-an :
Di dalam kita memahami manusia sebagai makhluk sosial (QS An Nisa’, 4 : 1) untuk dapat berinteraksi secara positif bagi memelihara nilai kemanusiaan (QS Al Hujurat, 49 : 13),Allah SWT telah dipandukan suatu gambaran pedoman kebenaran, sebagaimana diterangkan di dalam Al Qur-an Surah Al Baqarah, 2 : 208, yang artinya :
“Wahai Rasul! Sampaikanlah segala apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb kamu. Dan jika kamu kerjakan, maka (berarti) tiadalah kamu menyampaikan risalah-Nya, dan Allah itu memelihara kamu dari (berbagai gangguan yang direncanakan oleh) manusia. Sesungguhnya Allah itu tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang sama kafir.”
Pengkajian Ayat :
Apabila petunjuk dari ayat tersebut ditelaah secara seksama maka dapat diambil beberapa pengertian, antara lain :
1. Pernyataan Allah langsung kepada Rasul-Nya.
Merupakan petunjuk mutlak bagi umatnya tentang keberadaan Rasulullah, yaitu sebagai sosok petunjuk pelaksana strategi dari Allah, maka dengan pengenalannya itu menjadi wajib dijadikan pedoman oleh umatnya (QS An Nisa’, 4 : 64 - 65);
2. Tentang tekanan pada kalimat ”risa-latahu”.
Memberikan hukum mutlak tentang keberadaan Al Qur-an (QS Al An’am, 6 : 153), Karena Al Qur-an adalah penyempurna dari seluruh risalah Allah SWT atas para Rasul-Nya (QS Al Baqarah, 2 : 106);
3. Kalimat ”Wallahu ya’shimuka minannasi”, maka di dalamnya tersirat bentuk isyarat yang ditujukan kepada para pemegang amanah para Rasul, yaitu Al ’Ulama (QS Fathir,35 : 28).
4. Secara umum petunjuk ayat tersebut di dalam keterkaitan denan ayat sebelum dan sesudahnya, adalah merupakan petunjuk tentang ”solusi dalam perbaikan umat manusia yang telah terkondisi oleh pola dan program Ahli Kitab”, bahwa awal kerusakan Yahudi dan Nashara adalah di tangan ”para pendeta” (”Al ’Ulama”) (QS At Taubah, 9 : 34). Berarti solusi perbaikannya adalah terletak kepada kesadaran ”para ’Ulama” yang menjadi pusat pandang umat sebagai ”Al Arif”/”Al Khowasy” (QS An Nur, 24 : 37).
Seperti apa yang tersebut di atas maka jelas bahwa peran ’Ulama dituntut kebersamaannya untuk mengangkat Al Qur-an sebagai norma hukum atas umat manusia (QS Al Jatsiyah, 45 : 20) menuju janji Allah SWT, yaitu tegak Daulah Islam Dunia, sebagaimana telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam menjelaskan kedudukan ayat (QS At Taubah, 9 : 33).
Pembahasan :
Bahwa sesungguhnya petunjuk Allah SWT dan Panduan Rasulullah saw sudah cukup jelas, maka berarti ”getaran suara hati nurani umat manusia sedunia telah menjadi satu nada, yaitu suara rindu”, terhadap bangunan Khilafah dan Imamah berdasarkan ketetapan-Nya yang akan dijadikan-Nya sebagai suatu hal yang mengawali perjalanan bagi perubahan dunia secara total sampai akhir zaman.
Dengan demikian berarti bagi perjalanan ’Ulama, antara lain :
1. Perihal terjadi firqoh-firqoh.
Dalam Islam adalah bukan merupakan kendala, sebab hal tersebut telah diisyaratkan Allah terhadap Rasul-Nya (QS Al An’am, 6 : 159).
2. Perjalanan ’Ulama menuju kesepakatan dunia.
Merupakan perintah mutlak, sebagai poros perjalanan Islam dan umat Islam ke depan (QS Al Baqarah, 2 : 208).
3. Perjalanan Mudzakarah ’Ulama
Merupakan proses pengkondisian sebagai pemegang amanah para rasul bagi penggelaran perintah yang ditetapkan Allah SWT terhadap 5 Rasul Pilihan (QS Asy Syura, 42 : 13), dan sebagai pemegang amanah Allah SWT atas makhluk-Nya (QS Fathir, 35 : 27 - 28), sebagai wujud dari isyarat penunjukan Allah SWT kepada Muhammad saw, penutup para Nabi (QS Al Ahzab, 33 : 40) dan sebagai Rasul atas seluruh umat berbagai bangsa di dunia (QS As Saba’, 34 : 28).
Inilah kajian ringkas panduan Al Qur-an di dalam menuju Daulah Islam Dunia.
Mubarki
Gbcm.0908026
Rabu, 29 Oktober 2008
MUDZA-KARAH 'ULAMA (KAJIAN AHAD, 26 OKTOBER 2008)
Petunjuk Dalil Al Qur-an :
Allah telah menetapkan melalui firman-Nya di alam Al Qur-an Surah Al Baqarah, 2 : 208, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang sama beriman! Masuklah kamu dalam Islam secara keseluruhan! Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon, karena sesungguhnya ia itu bagi kamu adalah musuh yang nyata.”
Ayat tersebut apabila ditelaah berdasarkan ayat sebelum dan sesudahnya, merupakan petunjuk yang tegas dengan maksud yang jelas, antara lain :
1. Ayat tersebut ditekankan yang khususnya kepada “Al Ulama”, sebagai hamba yang peka terhadap factor lingkungan bagi proses sinkronisasi (QS Fathir, 35 : 28);
2. Sebagai pembeda antara haq dengan yang bathil (QS Al Baqarah, 2 : 42), dan antara mukmin dengan orang yang tidak beriman dengan akhirat (QS Al Isra’ 17 : 45);
3. Menjelaskan berbagai kemadlaratan dari pola syaithon, yaitu manajemen Jibti dan metode operasional Thaghut (QS An NIsa’,
4. Untuk memberikan ketegasan tentang keberadaan system yang mutlak dan wajib dipedomani oleh mukmin (QS Al An’am, 6 : 153).
Didapat pengertian dari perkataan “fis silmi ka-ffatan”, adalah “fil ittifa-qul ‘ulama” (suatu bentuk kesepakatan ulama) melalui metode “mudza-karah”, yang berarti mengingatkan berdasarkan dalil yang jelas dan bukan kaidah dari hasil buah pikiran.
Pembahasan :
Untuk dapat dipahami, bahwa perkataan “mudza-karah” itu bersifat mengingatkan, yang dengan itu maka dapat membangkitkan rasa kesemangatan yang dilandasi kebenaran Dinullah, atas dasar dalil yang jelas, agar tidak menimbulkan kesemangatan yang bersifat obskurantis (menggebu-buta). Oleh karena itu, wajib dimotivasi dengan keterangan-keterangan yang jelas, antara lain :
1. Faktor sejarah, sehingga dapat mengambil i’tibar dari berbagai kisah nyata dari perjuangan umat terdahulu dalam upaya menuju tegaknya Kalimatullah (QS Ali Imran, 3 : 137). Dan juga untuk mengkaji secara detail tentang langkah dan tahapan yang akan dilalui menuju janji Allah (QS Al Hasyr, 59 : 2);
2. Ketetapan Sunnatullah tentang perjalanan sejarah bangunan Khilafah pada fase I, yang perjalanan awal diproses berdasarkan petunjuk Taurat atas Musa a.s., kemudian berakhir dengan perutusan Isa a.s. dengan wahyu Allah dalam Injil, ”sebagai pembatas” (QS Az Zukhruf, 43 : 61). Kemudian untuk selanjutnya akan masuk perjalanan fase II, yang diproses dan dipandu oleh Rasulullah saw (QS Ali Imran, 3 : 68) dengan berdasrkan petunjuk wahyu Allah, Al Qur-an, menuju gambaran akhir yaitu Daulah Islam mendunia (QS At Taubah, 9 : 33) dalam bangunan ketetapan Allah, yaitu ”khilafah Muslimin” sampai akhir perjalanan zaman (QS An Nur, 24 : 55);
3. Mengingatkan kepada para Ulama terhadap ”Kepastian kekuasaan Allah”, terhadap sikap angkara murka yang menimbulkan penderitaan umat berkepanjangan, sehingga memunculkan ”jeritan nurani kemanusiaan” (QS Al Baqarah, 2 : 214). Maka Allah akan bangkitkan pemimpin-pemimpin berkaliber dunia atas izin-Nya, justru dari kalangan umat yang tertindas (QS Al Qoshosh, 28 : 5).
Dengan beberapa keterangan tersebut, membuktikan bahwa Sejarah Rumpun Melayu mempunyai untaian penjelasan yang spesifik, bahwa istilah ”Rumpun Melayu adalah identik dengan Islam" dan bahkan Rabithah Alam islami telah pernah memberikan sinyal, bahwa kebangkitan Islam mendunia diharapkan dari Rumpun Melayu.
Oleh karena itu, petunjuk dalil pokok kajian tersebut bermuatan penjabaran makna yang luas, maka harapan dan upaya, dengan melalui proses Mudza-karah ’Ulama Serumpun Melayu, semoga kiranya dibenarkan Allah sebagai langkah awal yang pasti guna menjemput kedatangan Janji Allah.
Mubarki
Gbcm.0908026
KARUNIA DAN RAHMAT ALLAH SWT (KAJIAN AHAD, 19 OKTOBER 2008)
Petunjuk Dalil Al Qur-an :
Mentadabburi petunjuk Allah SWT di dalam Al Qur-an Surah Yunus, 10 : 58, yang artinya :
“Katakanlah (Muhammad), ”Dengan kurnia dan dengan rahmat-Nya, maka dengan demikian itu hendaklah mereka bergembira, (karena) dia itu lebih baik daripada segala apa yang mereka kumpulkan.”
Ayat tersebut berhubungan dengan masalah Nur Islam (QS Az Zumar, 39 : 22) dan Hidayah Iman (QS Yunus, 10 : 100). Dengan begitu berarti pola hidup yang mutlak akan kebenarannya, yaitu Islam (QS Ali Imran, 3 : 85) dan Al Qur-an (QS Al Jatsiyah, 45 : 20) telah bersarang dan menghiasi hatinya.
Maka hal di atas merupakan nilai yang tidak dapat diukur dengan segala ragam kesenangan duniawiah ini.
Pembahasan :
Bahwa sesungguhnya Nur Islam dan Hidayah Islam yang telah bersarang di dalam sanubari hamba Allah, secara pasti merupakan pelita yang terang benderang, sehingga secara meyakinkan tidak akan mudah terkecoh atau tertipu oleh gemerlapan kehidupan dunia (QS Al Hadid, 57 : 20), maupun sistem yang disoori oleh para musuh Allah SWT (QS Al Baqarah, 2 : 204 - 206).
Dengan demikian merupakan sosok hamba Allah yang teguh dalam kebenaran dan berpandangan jauh ke depan (QS An Nur, 24 : 37), yang berorientasi kepada janji Allah SWT, yaitu ”Daulah Islam Dunia secara mutlak” (QS At Taubah, 9 : 33), untuk menandai bangunnya Khilafaul Muslimin atas kekuasaan dan ketetapan Allah SWT (QS An Nur, 24 : 55).
Selanjutnya hamba itu akan senantiasa memacu diri antara :
1. Secara aktif akan mencari kebenaran melalui majelis ilmu (QS Az Zumar, 39 : 18), guna memupuk semangat bertadabbur (QS An Nisa’, 4 : 82);
2. Secara ikhlas membuka diri di dalam menerima kebenaran Al Qur-an dan segala yang dipandukan oleh Rasu-Nya bagi penataan di seluruh lapangan kehidupan (QS Ali Imran, 3 : 164);
3. Secara aktif dan penuh loyalitas menepati kaidah kebersamaan dalam kehidupan berjama’ah dalam berbagai keadaan, tanpa membeda-bedakan, agar terantisipasi dari pengaruh buruk yang tidak Islami (QS Al Kahfi, 18 : 28).
Dengan demikian maka sebagai hamba Allah SWT akan senantiasa berada di dalam pola kebajikan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sehingga akan berupaya menegakkan ”Sistem dari Sang Kholik, dan bukan dari makhluk”, dalam menjemput janji-Nya. Karena Daulah Islam Dunia. Al Mahdi dan Khilafah, bagi Allah adalah hak dan wajib akan penegekannya pada akhir zaman. Inilah kurnia dan rahmat Allah SWT.
Mubarki
Gbcm.0908025
Selasa, 14 Oktober 2008
PERIHAL IBLIS (KAJIAN AHAD, 12 OKTOBER 2008)
Bahwa sebenarnya perihal “Iblis” dengan gaya penampilan yang khas (QS Al Baqarah, 2 : 34) yang ditetapkan sebagai “penghambat mental” terhadap jin dan manusia. Untuk itu maka Allah telah tetapkan garis besar langkahnya, sebagaimana tersebut di dalam Al Qur-an Surah Al Isra, 17 : 64, yang artinya :
“Dan arahkanlah siapa pun yang engkau mampui daripada mereka dengan suara (rayuan)mu, dan kerahkanlah atas mereka dengan pasukan berkuda kamu dan pasukan jalan kaki, dan satukanlah mereka dalam hal harta dan anak-anak, dan berilah janji palsu kepada mereka, dan tiadalah syaithon itu berjanji kepada mereka melainkan tipu daya.”
Ayat tersebut memberikan gambaran tentang “Pola kerja Iblis” sebagai tim penguji, dalam wujud menejemennya disebut “Jibti”, kemudian dalam sistemnya disebut “Thoghut”, merupakan hasungan dengan langkah pengendalian yang justru secara pasti mengundang kemurkaan Allah SWT (QS An Nisa, 4 : 51). Inilah fakta terhadap ajaran dogmatik masa kini, dan membuat manusia mengalami proses dehumanisasi.
Pembahasan :
Memahami atas keberadaan Iblis, maka akan dapat mengetahui pula tentang sasaran dan tujuan dari sifat-sifat Iblis yang disebut “Syaithon”, yang berarti musuh kemanusiaan (QS Yasin, 36 : 60), yang menyarangkan bisikan jahatnya ke dalam nafsu manusia (QS An Nisa’, 4 : 118). Inilah yang akan mengusik nafsu manusia untuk memenuhi kehendak hawanya (QS Al Hajj, 22 : 53).
Dalam peranannya, hal tersebut akan memunculkan dua versi, yaitu :
1. Orang-orang yang telah MENERIMA KUTUKAN;
2. Ketetapan Sunnatullah tentang perjalanan sejarah bangunan Khilafah pada fase I, yang perjalanan awal diproses berdasarkan petunjuk Taurat atas Musa a.s., kemudian berakhir dengan perutusan Isa a.s. dengan wahyu Allah dalam Injil, ”sebagai pembatas” (QS Az Zukhruf, 43 : 61). Kemudian untuk selanjutnya akan masuk perjalanan fase II, yang diproses dan dipandu oleh Rasulullah saw (QS Ali Imran, 3 : 68) dengan berdasrkan petunjuk wahyu Allah, Al Qur-an, menuju gambaran akhir yaitu Daulah Islam mendunia (QS At Taubah, 9 : 33) dalam bangunan ketetapan Allah, yaitu ”khilafah Muslimin” sampai akhir perjalanan zaman (QS An Nur, 24 : 55);
3. Mengingatkan kepada para Ulama terhadap ”Kepastian kekuasaan Allah”, terhadap sikap angkara murka yang menimbulkan penderitaan umat berkepanjangan, sehingga memunculkan ”jeritan nurani kemanusiaan” (QS Al Baqarah, 2 : 214). Maka Allah akan bangkitkan pemimpin-pemimpin berkaliber dunia atas izin-Nya, justru dari kalangan umat yang tertindas (QS Al Qoshosh, 28 : 5).
Dengan beberapa keterangan tersebut, membuktikan bahwa Sejarah Rumpun Melayu mempunyai untaian penjelasan yang spesifik, bahwa istilah ”Rumpun Melayu adalah identik dengan Islam:’ dan bahkan Rabithah Alam islami telah pernah memberikan sinyal, bahwa kebangkitan Islam mendunia diharapkan dari Rumpun Melayu.
Oleh karena itu, petunjuk dalil pokok kajian tersebut bermuatan penjabaran makna yang luas, maka harapan dan upaya, dengan melalui proses Mudza-karah ’Ulama Serumpun Melayu, semoga kiranya dibenarkan Allah sebagai langkah awal yang pasti guna menjemput kedatangan Janji Allah.



